Satu Perjalanan yang sengaja ingin aku rasakan. penuh dengan namanya ideologi dan birokrasi. Awal Jalan itu kubentangkan dengan seorang sahabatku. Banyak lubang yang harus kami tutup, dan bahkan harus kami batu ulang untuk menjadi lebih nyaman..
Dalam tenang aku sering berfikir bagaimana menjadi yang beda, bagaimana menata lebih baik, dan bagaimana bercinta dengan nuansa organisasi.
Beberapa buku cerita sering kami baca dari raut muka pendahulu kami, organisator yang baik, sedang, dan buruk. kami rasa mereka Benar dan Salah. Keduanya bercerita demikian. kebenaran tentang para punggawa diatas kami, dan kesalahan yang mereka tunjukan, menjadi satu pemikiran kami selama tiga bulan ini.
keindahan dunia baru belum aku rasakan. namun hangatnya sudah menjamah otakku. aku bahagia, sedih, dan kecewa. aku pintar, bodoh, dan malas.
Yang Kami Lakukan Saat ini mulai merubah nuansa organisai. dari mereka yang benci, Sirik, dan entah kata apa lagi yang begitu tidak enak di baca. menjadi fokus kepada kami seperti lensa kamera provesional yang begitu tajam, sering memberikan motivasi yang membangun.
kembali padaku, aku ingin mereka tau bahwa aku bukan yang dulu, aku bukan orang pintar. tapi aku sekarang letih. aku ingin menghilangkan rasa kecewa, apakah memang mereka tak memiliki rasa yang satu denganku, rasa yang gila denganku.
itu sebuah egosentris miliku tak ku pungkiri dan hanya ku tutupi dgn kata tenang, senyum terpaksa, dan gembira yang disengaja.
kami merubah pandangan orang sebelumnya tentang kita. merubah senyum sinis menjadi tawa. tapi feedback mulai beda. menjelang 100 hari kami berlayar nahkoda mulai kehilangan arah. dan aku muali menerima interpensi tentang langit dan cita-cita.
aku ingin loncat dari kapal ini, ingin kembali berselancar bersama lumba-lumba dan burung air. tapi hatiku telah terbungkus kertas organisasi, terbelit tali tanggung jawab.
apa yang harus aku lakukan saat ini. pelabuhan masih jauh. dan didepan masih banyak pusaran air yang besar. bisa membuat kami tenggelam dan hilang.
subjek ataukah objek yang terus kami fikirkan sekarang ini, kami ingin beda tapi kami takut, kami ingin sama tapi aku malu. aku hanya ingin kami bahagia dan dewasa. ingin menjadi subjek yang majemuk dan objek yang berkarya.
bangunlah putra-putri ibu pertiwi bangunlah remaja banten jaya, jadikan aku lebih bermanfaat, dan aku yakin kita mampu menjadi beda. walau ideologi kita pun beda. beda bukan tambah diam. melainkan beda yang digemari orang. kita ukir sejarah muda kita dengan tinta perak maka masa depan kita akan kita ukir pada emas.
-
-
6 Comments to “The Hundread…. I Will Survive”
Leave a Reply





Qie on November 4, 2009
great post… emang benar dari semua kutipan posting ini.. terkadang sayah sendiri merasa hidup ini begitu monoton.. sayah jenuh, namun sayah juga tak tak apa yg hartus sayah lakukan.
dinz on November 10, 2009
yapp.. Kita Harus Terus Berjuang Kawan…
ceriaselamanyah on November 16, 2009
bangunlah pemudi-pemuda genteng.. aku cinta genteng oyi !!!
dinz on November 17, 2009
hohohoh banten jaya.. selalu jayaa… ohh yeaaaaa
VancolleyS on November 17, 2009
wooooooo……. komen e podo ndak njalur…..
wong genteng ambi wong banten… podo gendeng e… gendeng = kadut…. duuuuttt…
dinz on November 19, 2009
wkwkkw dasarrr kadutttttttttttt