Pagi hari yang begitu indah, awal langkah Marlawan Maulana yang akrab di panggil dengan Lalan menuju peruntungan diri tentang langit dan cita-cita. Pagi itu dengan stylenya yang sederhana dia mengejar cita-citanya untuk masuk kedalam sebuah perguruan tinggi yang ternama di kotanya itu. Pagi yang penuh dengan perjuangan dimulai dengan kempes ban depan motornya, ditambah perboden jalan yang tiba-tiba ada di pertigaan kebon jahe karena akan ada orang ternama melewati tempat itu.
Ujian dimulai pada pukul 9 pagi, jarak dari rumahnya ke tempat itu begitu jauh dan begitu berbelit-belit. Dipacunya kecepatan speda motor buatan jepang tahun 80an itu karena dia takut terlambat tiba di tempat tujuannya itu. Lusuh lesah keadaannya di tempat tujuan karena kendaraanya itu mogok di tengah jalan, waktu lima menit lagi menuju ujian berlangsung, peruntungan yang begitu melelahkan diawal paginya yang baru.
Ujian dimulai, lalan dengan semangat tahun 28 bekerja keras menjawab seluruh pertanyaan itu karena dia teringat sebuah kata motivasi tentang “Kemenangan akan tercipta disaat kita mengalami tekanan tentang bayang-bayang kekalahan”.
Selesai mengerjakan tes itu selanjutnya lalan berkenalan dan berbincang-bincang dengan seseorang yang menurutnya asik diajak mengobrol, namanya hidayat, kawan pertama yang ia kenal dimasa awal langkah menuju kemenangannya. Hidayat merupakan orang yang supel, asik bercanda dan sangat pintar berhitung, asiknya mengobrol melupakan waktu yang selalu kejam kepada lalan, sampai mereka berpindah tempat kesebuah taman indah di areal kampus langit itu.
Nama kampus itu adalah Sekolah Tinggi Manajemen Komputer Pulau Langit. Tempat yang begitu asri dengan suasana edukasi yang penuh dengan teknologi informasi yang memukau. Lalan selalu berharap dapat masuk kedalam itu, karena dia memang suka dengan dunia computer, khususnya bidang grafis.
Menuju jam pulang ternyata arah rumah hidayat sejalan dengan lalan, dan akhirnya mereka pulang bersama menggunakan kendaraan lalan, karena waktu itu hidayat tidak membawa kendaraan. Ditengah perjalanan hujan lebat turun, memaksa mereka berteduh di sebuah saung layu di pinggiran jalan yang mempunyai pemandangan persawahan yang begitu luas, hijau, dan indah. Perbincangan mereka semakin nyambung, apalagi membicarakan tentang perempuan, lalan yang begitu ahli tentang teori mendapatkan perempuan bercerita panjang dan detail, sehingga membuat hidayat tertawa terbahak, membuat sebuah awal titik persahabatan yang indah. Begitu pun hidayat yang tak ingin kalah berideologi tentang kata Sayang, menurutnya sayang adalah rasa indah dan cinta adalah rasa merdu. Begitu nyambung dan berirama dengan deras hujan yang bernada sendayu.
Awan kelelahan menangis sehingga deras hujan berubah menjadi rintik-rintik yang merdu dan lembut. Membangunkan suasana serius dalam perbincangan, pelangi datang berdentang mempesonakan tatapan mata mereka dan menghangatkan motor motivasi mereka dalam memperjuangkan keyakinan tentang langit dan cita-cita yang mereka impikan demi kemaslahatan dunia transisi yang akan mereka hadapi beberapa tahun kemudian.
Hujan reda, perjalanan pulang dilanjutkan. Putaran roda speda motor tua yang indah itu membawa pengalaman pertama yang unik tentang pertemuan sebuah sahabat yang indah dan segar.
waaaaaaa……
cerpen euy… multi talent ngunu dirimu dinz..
ckckckckkckckckck..
rugi cewek gagh mau sama kamu… (kecuali aku..)
hahaha..
wkkwkwkw itu kok ada kecualinya si ach..
ini mau buat cerita nya Meranti ga keburu mulu.. jadi dikit” di posting di blog..